Mewujudkan Peradaban Kasih Persaudaraan di Era 4 0 Hasil Seminar dan Lokakarya MNPK


Posted on: 3 June 2019

 Pengantar

Majelis Nasional Pendidikan Katolik bekerja sama dengan Majelis Pendidikan Keuskupan Agung Medan menggelar seminar dan lokakarya di Hotel Niagara, Parapat, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 22-25 Mei 2019, dengan tema “Mewujudkan Peradaban Kasih Persaudaraan di Era 4.0.”

Kegiatan ini yang dihadiri 369 peserta, yakni para ketua Majelis Pendidikan Keuskupan, para ketua yayasan, para kepala sekolah dan guru informatika SMP-SMA dari seluruh Indonesia, menghadirkan sejumlah pembicara yang mengupas hakekat, keberadaan dan dampak era 4.0 dari aneka dimensi serta merumuskan langkah-langkah konkret yang akan dilakukan LPK untuk menyikapi era ini secara arif. 

Para pembicara antara lain Uskup Agung Medan, Mgr Kornelis Sipayung OFM Cap yang membawakan keynote speech dengan judul “Membangun Sebuah Peradaban Cinta”; Pastor Peter C Aman OFM, Dosen Teologi Moral Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta yang membahas tema “Mesin Cerdas – Dari Rasa Kagum ke Sikap Bijak: Perspektif Moral Katolik”; Moch Abduh dan Doni Koesoema dari Kemendikbud yang mengupas tema “Kebijakan Mapel Informatika dalam Kurikulum Nasional” serta Inggriani Liem, Ketua Tim Olimpiade Komputer Indonesia dan Dosen di Institut Teknologi Bandung, yang membahas tema “Computational Thinking dalam Proses Pembelajaran.”

Selain seminar, juga diadakan lokakarya, di mana peserta dibagi dalam tiga kelompok, yaitu pengurus yayasan, kepala sekolah serta guru informatika. Para pengurus yayasan mendalami dua topik, yakni “Tata Kelola Keuangan Yayasan LPK” yang dibawakan oleh Fr Monfort Mere, BHK, Anggota Presidium MNPK Bidang Tata Kelola dan Keuangan dan terkait “Sistem Akutansi Keuangan 4.0/E-Finance 4.0” oleh Julia Chen, Bendahara MNPK. Sementara para kepala sekolah mendalami topik “Kepemimpinan LPK 4.0” yang dibawakan oleh RD Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium MNPK dan para guru informatika mendalami topik terkait “Penyusunan Draf Program Semester Informatika” di bawah bimbingan Inggriani Liem.

Rangkaian pertemuan dibuka dengan Misa pada 22 Mei 2019 yang dipimpin Mgr Kornelis Sipayung. Selain seminar dan lokakarya, pertemuan ini juga diisi dengan pementasan seni budaya Batak serta wisata ke Danau Toba dan sekitarnya.

Salah satu tarian khas Tanah Batak yang dibawakan dalam acara seminar dan lokakarya.

Berikut adalah rangkuman dari materi-materi yang dipaparkan para narasumber dan diskusi selama kegiatan.

Konteks

Revolusi industri 4.0, sebagai buah dari lompatan besar kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi, melahirkan disrupsi dalam sejumlah aspek kehidupan kita. Era ini ditandai dengan semakin banyaknya penggunaan gawai, robot, kecerdasan buatan, Internet of Things (IoT), analisis big data, dan lain sebagainya, sebuah era kehidupan yang sudah serba digital. Sebagai buah dari kecerdasan manusia, perluasan diri manusia, perkembangan ini merupakan sesuatu yang perlu disyukuri. Ada beragam hasil usaha cerdas dan kreatif manusia yang membawa manfaat positif bagi kehidupan kita. 

Namun, kita juga menyadari bahwa sebagai buah dari karya manusia, perkembangan ini tidak seluruhnya positif, karena serentak membawa potensi-potensi destruktifnya sendiri jika tidak direspons secara arif. Mesin selalu mungkin mendehumanisasi, memperlakukan manusia tanpa nilai-nilai serta perasaan-perasaan manusiawi. Mesin dapat membunuh ketika dipakai untuk berperang, menyulut konflik lewat proses penyebaran pesan-pesan provokatif dan hoaks, gejala yang sudah banyak terjadi dalam kehidupan kita saat ini.

Perkembangan ini membawa konsekuensi bagi dunia pendidikan, termasuk LPK, yang setidaknya terarah pada dua hal. Pertama, bagaimana merespons perkembangan ini agar eksistensi LPK tetap relevan dengan konteks zaman; dan yang kedua, bagaimana menyikapi perkembangan ini agar muaranya adalah tetap pada upaya menciptakan manusia-manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Injili dan mengarahkan diri pada upaya perwujudan peradaban kasih persaudaraan.

Tuntutan bagi LPK

Kehadiran mesin-mesin cerdas dengan berbagai variannya menuntut proses adaptasi bagi dunia pendidikan, termasuk LPK. Kehadiran mesin-mesin yang menggeser tenaga manusia menuntut dunia pendidikan untuk memformulasi kembali target output dari proses pendidikan, termasuk di dalamnya juga menemukan rumusan-rumusan baru dalam proses pendidikan di kelas, juga model kepemimpinan kepala sekolah dan penyelenggara (yayasan) yang bisa mendukung upaya mencapai target tersebut.

Pemerintah telah merespons tuntutan era 4.0 ini dengan mencanangkan “Program Making Indonesia 4.0” pada April 2018 dan menerapkan Mata Pelajaran Informatika, yang akan mulai berlaku pada tahun ajaran 2019/2020. Tujuan dari mata pelajaran ini, yang lebih luas dari sekedar teknologi informasi dan komunikasi, adalah terbentuknya kemampuan berpikir komputasional (computational thinking) dalam menjawab tuntutan kompetensi manusia di abad ke-21, yakni mampu berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis dan kreatif. Manusia abad ke-21 dituntut memiliki sejumlah kecakapan, antara lain kecakapan dasar (membaca, menulis, berhitung, mendengarkan dan berbicara), kecakapan berpikir (berpikir kreatif, mampu mengambil keputusan, merumuskan solusi, menjadi pribadi pembelajar, intuitif, dan berpikir logis) dan kualitas kepribadian (tanggung jawab, menjaga harga diri, ramah, kemampuan untuk mengurus diri, integritas dan kejujuran).

Rancangan kurikulum informatika diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, yang tidak saja memiliki pengetahuan tentang dunia digital, tetapi juga mampu menciptakan sesuatu dan kemudian menggunakannya dengan baik. Dalam konteks ini, dikenal apa yang disebut sebagai literasi digital, dengan sejumlah faktor kunci. Pertama, mengakses, terkait dengan pengetahuan tentang informasi dan bagaimana mengumpulkan dan atau mendapatkan informasi. Kedua, menggunakan informasi dan teknologi informasi, terkait dengan kemampuan mengelola dan menerapkan skema klasifikasi atau organisasi. Ketiga, memaknai informasi, terkait dengan kemampuan menginterpretasi dan  mendeskripsikan kembali informasi dengan cara membandingkan, mengklasifikasikan dan membuat ringkasan. Keempat, mengevaluasi, terkait kemampuan memutuskan tentang kualitas, keterkaitan, kegunaan atau efisiensi dari informasi. Kelima adalah menciptakan, terkait kemampuan menciptakan informasi baru melalui proses mengadopsi, menerapkan, mendesain, membuat atau menulis informasi. 

Berwisata ke Danau Toba menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara.

Sejumlah ciri di atas mengindikasikan kompetensi orang yang terliterasi, yakni terampil dalam berkomunikasi dan berinteraksi melalui teknologi dan media digital; terampil dan terbiasa memanfaatkan teknologi dan media digital; bertanggung jawab dan beretika dalam mengolah dan menyebarkan informasi; dan memiliki kemampuan berpikir kritis untuk memilah, menganalisis, berkreasi, dan memahami isu-isu terkini melalui pemanfaatan teknologi serta  pemaknaan informasi.

Mengimplementasikan berbagai tuntutan itu di LPK menjadi tugas bersama, yang setidaknya terarah pada bagaimana memformulasi model pembelajaran, model kepempimpinan di sekolah dan manajemen penyelenggara.

LPK mesti mendesain model-model pembelajaran yang memperlakukan peserta didik sebagai subjek, di mana melalui proses belajar segala potensi mereka dioptimalkan. Model pembelajaran diarahkan pada upaya menghasilkan generasi-generasi yang kreatif, responsif, konektif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan persoalan, inovatif, kolaboratif, mencintai budaya literasi, mampu berpikir tingkat tinggi sehingga peserta didik tumbuh sebagai pencipta inovasi-inovasi baru dan bukan hanya sekedar menjadi pengguna. Karena itu, sangatlah vital untuk memberi perhatian intens pada peningkatan kualitas guru, melalui pelatihan-pelatihan sehingga mereka menjadi guru yang kreatif, inovatif, menyenangkan dan bertanggung jawab.

Model pembelajaran yang kreatif dan inovatif tersebut tetap berlandaskan pada pendidikan karakter, yang menjadi basis untuk pengembangan potensi belajar dan kecerdasan peserta didik. Karena itu, perhatian terhadap pengembangan kecerdasan peserta didik harus seimbang dengan upaya penanaman nilai. LPK tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi juga arif, pribadi yang beriman, yang bersatu dengan “pokok anggur.” (bdk. Yoh. 15: 1-19).

Berkaitan dengan kepala sekolah, model kepemimpinan di sekolah mesti terbuka untuk dievaluasi, dengan penyesuaian-penyesuaian yang menjawab tuntutan era 4.0. Beberapa di antaranya penting untuk diwujudkan, yakni kolaborasi dengan berbagai pihak, membuka diri untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru dalam peningkatan mutu sekolah, responsif dan konektif terhadap berbagai situasi, menghilangkan model kepemimpinan yang otoriter dan membuka ruang-ruang kerja sama dengan berbagai pihak yang berkehendak baik.

Sementara, terkait dengan penyelenggara (yayasan), perlu mengedepankan “benefit”, dengan prinsip transparansi, akuntabel, adil dan adaptif terhadap perkembangan terbaru, termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. 

Fokus Pada Manusia Utuh

Sebagaimana yang juga menjadi tujuan dari Mata Pelajaran Informatika, tujuan dari proses ini adalah membentuk manusia-manusia yang menjadi tuan atas teknologi. Robot bisa menggantikan pekerjaan mekanistis manusia, namun semua itu memiliki keterbatasan yang tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran manusia. Meski cerdas, mesin-mesin tetap tidak bisa berpikir, tidak memiliki perasaan dan tidak bisa memberi pertimbangan nilai, hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia konkret. 

Karena itu, dalam proses implementasi upaya-upaya merespon tuntutan era 4.0, maka LPK tetap mengarahkan diri pada upaya menghasilkan manusia-manusia yang memiliki kecakapan hidup, bisa mengevaluasi sekaligus bertanggung jawab atas tindakan-tindakanya. Proses pendidikan di LPK ditempatkan dalam kerangka membentuk pribadi-pribadi yang holistik, yang akrab dengan teknologi, tetapi sekaligus bisa mengontrol teknologi. Dalam kerangka ini, hal yang tidak kalah penting adalah memupuk hati peserta didik dengan membiasakan mereka mengenal manusia lain dan memelihara budaya refleksi, sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang serentak cerdas dan  memiliki kepedulian terhadap kebaikan hidup orang lain dan lingkungan. Upaya ini dilakukan secara holistik sejak pendidikan di usia dini melalui internalisasi nilai-nilai kasih, keadilan, damai dan solidaritas.

Fr Monfort Mere, BHK, Anggota Presidium MNPK Bidang Tata Kelola dan Keuangan sedang membawakan materi terkait “Tata Kelola Keuangan Yayasan LPK.”

LPK mendidik manusia yang mampu memanfaatkan teknologi dan berkembang utuh sesuai dengan keluhuran martabat pribadinya, manusia-manusia yang menjadi subjek kemajuan dan bukan korban serta budak kemajuan. Sejalan dengan perspektif ini, pendidikan menjadi pelayanan atas sebuah kemanusiaan baru yang di dalamnya pribadi yang bersifat sosial sedang dan telah berbicara dan bekerja bagi realisasi kebaikan umum. 

Implementasi

Dalam tekad meraih harapan ini, maka berikut adalah hal-hal konkret yang perlu mendapat perhatian LPK:

Terkait Guru:

  1. Selalu berikhtiar meningkatkan kompetensi kepribadian, pedagogi, sosial dan profesional agar bisa menjawab tuntutan model pembelajaran sesuai dengan perkembangan era 4.0. Karena itu, guru-guru perlu terus belajar (on going formation) dan menempa diri melalui pelatihan-pelatihan.
  2. Mengembangkan pola pembelajaran yang menumbuhkan daya kritis, kreatif, inovatif, reflektif, kemampuan berkolaborasi dan kesediaan berdialog dalam diri peserta didik.
  3. Secara kreatif menerapkan pola pengajaran yang tidak hanya terpaku pada “buku teks” dan buku siswa, tetapi terbuka untuk mencari sumber-sumber lain yang bisa menantang peserta didik untuk memaksimalkan daya kritis, kreatif dan inovatif mereka.
  4. Mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak hanya melek secara teknologi tetapi juga berkembang menjadi manusia berkarakter yang mampu menggunakan teknologi dengan bertanggung jawab.

Terkait Kepala Sekolah:

  1. Menjaga integritas dan menempatkan prinsip transparan, akuntabel, kredibel, demokratis yang didukung oleh penggunaan sistem teknologi dan informasi dalam pengelolaan sekolah.
  2. Menyesuaikan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan era 4.0, termasuk di antaranya adalah membudayakan dialog, menciptakan iklim relasi yang organik, meninggalkan model kepemimpinan yang mekanistis, hierarkis birokratis, formalisasi tinggi dan sentralistis.
  3. Merumuskan terobosan-terobosan kebijakan yang mendukung upaya menjawab tuntutan era 4.0, termasuk perhatian pada peningkatan kompetensi guru dan terbuka terhadap upaya evaluasi terhadap berbagai hal.
  4. Membangun kolaborasi yang baik dengan berbagai pihak, termasuk orangtua murid, para guru, pihak yayasan, pemerintah, alumni serta selalu berupaya belajar terus-menerus untuk meningkatkan kompetensi managerial, sosial, supervisi, kewirausahaan dan kepribadian.

Terkait Penyelenggara:

  1. Menyelenggarakan standarisasi pendidikan Katolik dengan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, yang merupakan jantung dari kinerja LPK dalam era 4.0 dan membangun sinergi dengan pemerintah dan instansi lain yang berkaitan erat dengan pendidikan.
  2. Menetapkan visi, misi dan tujuan dengan menerapkan manajemen yang akuntabel, kredibel dan transparan, termasuk dalam hal keuangan, 
  3. Dalam rangka tata kelola keuangan, menyusun pembukuan yang mengacu pada PSAK 45 tentang organisasi nirlaba dengan tetap memperhatikan perubahan entitas umum laporan keuangan terbaru sesuai dengan buku petunjuk Praktis Manajemen Keuangan LPK. 
  4. Memberi perhatian serius pada Peraturan Kepegawaian yang disesuaikan dengan UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang harus disahkan oleh Dinas Tenaga Kerja. Penyusunan Buku Peraturan Kepegawaian hendaknya dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan Dinas Tenaga Kerja setempat sampai pada Penetapan SK Kepegawaian. Yayasan juga hendaknya mengupayakan pelaksanaan UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Permen Ketenagakerjaan No 1 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyelenggaraan Program SJSN.
  5. Demi memaksimalkan upaya peningkatan mutu pendidikan, penyelenggara perlu memberi perhatian serius pada peningkatan kesejahteraan guru, dengan penetapan upah yang layak.

Penutup

Menyikapi era industri 4.0 secara serius adalah sebuah keharusan, sekaligus ikhtiar LPK untuk selalu relevan dengan situasi dan keadaan dunia, di mana LPK mengemban misi Gereja di bidang pendidikan.

Sebagaimana yang menjadi pesan Paus Fransiskus bahwa buah dari kecerdasan manusia dalam bentuk berbagai produk teknologi, di samping patut disyukuri, tetapi pertama-tama haruslah dimanfaatkan untuk kebaikan manusia. Dalam nada yang sama, upaya LPK menjawab tantangan era industri 4.0 ini adalah juga bagian dari jalan mengabdi kepada kemanusiaan agar para peserta didik yang dilayani berkembang menjadi orang-orang yang melek zaman sekaligus menjadi pribadi-pribadi yang merawat kepedulian pada sesama dan lingkungan. Dengan demikian, misi mewujudkan peradaban kasih pesaudaran bisa benar-benar tercapai.

Ut Omnes Unum Sint. Salam kasih persaudaraan!

Parapat, 25 Mei 2019

Ketua Presidium MNPK

DR Vinsensius Darmin Mbula OFM

 

 

 

Versi cetak

Berita Terkait


Kalender Harian

    « Nov 2019 »
    Minggu
    Senin
    Selasa
    Rabu
    Kamis
    Jumat
    Sabtu
    27 28 29 30 31 1 2
    3 4 5 6 7 8 9
    10 11 12 13 14 15 16
    17 18 19 20 21 22 23
    24 25 26 27 28 29 30
    1 2 3 4 5 6 7
Statistik Website

    Visitors :93038 Visitor
    Hits :216464 hits
    Month :761 Users
    Today : 115 Users
    Online : 2 Users
Google Map


CERTIFICATIONS

price and packages-Call-to-action-Icon

Sekolah Charitas mengembangkan aspek intelektual, spiritual, sosial, emosional dan seni, juga membangun manusia pembelajar seumur hidup. Agar menjadi manusia yang utuh, cerdas dan mandiri, mempunyai kepekaan terhadap sesama melalui keteladanan Cinta Kasih dan kegiatan yang terprogram (Intrakuriler dan Ekstrakuriler).